5 Alasan Mengapa Seraphine League of Legends Dibenci Komunitasnya Sendiri

Posted on

 

 

Seraphine ( biasa diundang ‘Sera’) adalah champion League of Legends versi PC dan versi mobile yang memetik banyak kritik dari penggemar berat League of Legends. Hadirnya bawa udara segar dan menambah opsi champion dengan role support-mage. Tetapi, banyak yang sayangkan sosok “vokalis pendatang baru” ini karena banyak hal yang menggelisahkan fans sama seperti yang telah penulis kumpulkan di bawah berikut.

1. Lore atau Lora yang Tidak Benar

 

 

Penggemar League of Legends akui mereka benar-benar tidak mencintai latar belakang story dari Sera, ini dikarenakan oleh pemakaian Hextech Crystal selaku tenaga pokok dari Hoverboard kepunyaannya, yang sesungguhnya kristal itu adalah anggota badan dari makhluk hidup yang disebutkan Brackern. Brackern bisa mati dalam proses ambil kristal itu selaku sumber tenaga di Piltover (lokasi di League of Legends Universe).

Sesungguhnya, Sera dapat dengar suara hati seseorang dan dia turut menyanyi bersama suara itu, terhitung beberapa suara dari kristal Brackern ini. Perihal ini pula yang membuat penggemar geram dengan sikap Sera yang secara sadar memakai ‘makhluk hidup’ selaku sumber tenaga hoverboard kepunyaannya sekalian mengatur kemampuannya.

2. Skill Set Yang Serupa Dengan Sona

 

 

Penggemar berasa Sera adalah rework dari champion suport mage yang lain namanya Sona dan tidak ada yang demikian istimewa dari Sera. Skill Set yang dipunyai juga kurang lebih serupa dan lebih diperkokoh saja. Selaku contoh Skill Ulti Sona bisa hentikan atau root pada beberapa champion sepanjang berada di tempat skill dan Sera mempunyai ide yang serupa dengan dampaknya ialah charm yang bisa memikat musuh menuju tempatnya yowinjoker .

Baca juga : Christopher Nolan Terbuka dengan Filmnya Diadaptasi Jadi Game

3. Mempunyai Skin Legendary Walau Baru Keluarkan

 

 

Players atau penggemar menyambat kenapa seorang champion yang baru dikeluarkan langsung juga memperoleh Skin Legendary. Skin Legendary ada di jenjang ke-3 (tingkat dua Skin Mythic dan tertinggi Skin Ultimate) dan cuman diberi untuk champion yang telah dikeluarkan lama oleh Riot, tetapi bukan untuk Sera. Ini membuat penggemar memikir apa yang sesungguhnya pihak Riot pikir saat mengeluarkan Seraphine? Taktik Pemasaran atau benar-benar Riot menyengaja untuk menyaksikan reaksi beberapa penggemar?

4. Backsound Seraphine yang mengusik saat Match berjalan

 

 

Sera benar-benar sama selaku musikus, bahkan juga saat kita ada di dalam match, voicelines kepunyaannya seperti menyanyi. Saat Sera dimainkan, dia mempunyai perombakan backsound yang berlangsung jika dia bersama dengan rekanan satu teamnya. Perombakan backsound ini berlangsung pada player yang lain bersisihan dengan Sera. Beberapa player juga menyalahkan saat dia menyanyi membuat player lain jadi tidak konsentrasi.

5. Seraphine yang dilukiskan mempunyai rumor Kesehatan Psikis

 

 

Selain Sera yang disebut champion di League of Legends, Sera adalah influencers fiksi selaku salah satunya taktik pemasaran mereka.

Hal yang lebih mengagetkan ialah Seraphine dilukiskan seakan-akan alami kekhawatiran dan stres sepanjang dia melalui kariernya di dunia musikus.

Lebih parahnya kembali, penggemar membenci kisah itu dikerjakan lewat tweet account Twitter-nya

yang dikerjakan di tanggal 10 Oktober, bersamaan dengan Hari Kesehatan Psikis Dunia.

Banyak player yang cukup sedih dengan Riot yang coba hidupkan segi moralnya lewat account resmi Twitter Sera yowinjoker (@seradotwav).

Baca juga : Christopher Nolan Terbuka dengan Filmnya Diadaptasi Jadi Game

Dan cukup banyak yang memiliki pendapat ini tidak patut untuk dikerjakan

sebab memandang Riot menyengaja ambil keuntungan dari rumor penyakit psikis.

Jika disaksikan dari bagian lain, penulis berasa ini sesungguhnya terhitung cara yang baik

untuk membuat awareness kita pada orang di luaran sana jika banyak pula yang alami rumor kesehatan psikis semacam ini.

Secara individu, kedatangan Seraphine bisa memberi pengalaman bermain yang lebih baik dan baru di universe League of Legends. Namun banyak player menyalahkan jika Seraphine hanya satu ‘alat pemasaran’ untuk Riot, sama dalam pengerjaan skin ultimate lalu mengkolaborasikannya dengan K/DA. Benar-benar ini terhitung selaku satu hal yang baru dan memikat buat disongsong. Tetapi langkah Riot dalam ‘menggunakannya’ seakan terkesan cuman untuk kebutuhan komersial saja. Dan itu bukan keputusan yang lumayan diminati oleh beberapa penggemar.

Baca juga : Setelah Udil dan Antimage, Kali Ini Giliran Psycho yang Tinggalkan ONIC Esports

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *