Meneliti Kebodohan Netizen Toxic yang Dapat Mengakibatkan kerusakan Esports

Posted on

Masih ingat masalah yang menerpa club sepakbola yang harus terpaksa bayar denda milyaran rupiah sebab kebodohan yang dilaksanakan pendukungnya sendiri? Apalah makna olahraga tanpa ada fans, tidak bisa disangkal perkembangan olahraga E-Sports sampai seperti saat ini tidak lain sebab mempunyai banyak fans. Tetapi hadirnya fans di dunia olahraga seperti pisau bermata dua, lebih fans di belakang monitor atau netizen toxic.

Satu bagian dengan adanya banyak fans dapat jadi pemacu semanggat tim yang berlaga. Tetapi di lain sisi, kehadiran fans garis keras malah dapat merusak olahraga tersebut. Di Indonesia saja tertera ada seputar 60 juta orang sebagai fans setia olahraga eSports, serta diprediksikan tetap akan bertambah sampai capai angka 100 juta pada tahun 2020.

Pikirkan bila setengah dari fans itu ialah netizen toxic, yang sering melemparkan banyak komentar negatif ke team lain. Tentunya ini bisa menyebabkan perseteruan antara beberapa simpatisan tim-tim esports, serta tragisnya dapat berbuntut kekerasan di antara mereka sendiri di komune.

Meneliti kebodohan pemain keduabelas atau yang seringkali disebutkan supporter atau fans atau netizen perlu satu pendalaman serius. Sama-sama ejek kelihatannya sudah jadi budaya, serta budaya primitif ini sampai terikut ke permainan Mobile Legends Professional League (MPL) Indonesia Season 5.

Meneliti Kebodohan Netizen Toxic yang Dapat Mengakibatkan kerusakan Esports

Pemain Rex Regum Qeon (RRQ) Hoshi, Joshua “LJ” Darmansyah serta harus memperingatkan semua pengemar esports tidak untuk jadi toxic, yakni dengan akhiri sama-sama ejek serta kritik ke fans team lain. Joshua menjelaskan jika jadi toxic hanya karena akan bikin rugi, serta merusak esports tersebut. Menurut Joshua, fans semestinya dapat membuat lingkungan esports yang positif dengan beberapa kehebohan.

“Jangan toxic lah, sebab kita harus membuat lingkungan esports yang positif dengan beberapa kehebohan. Bukan justru sama-sama jatuhkan keduanya. Semuanya tidak sekali, guys,” sebut LJ.

“Saya ingin peringatkan pada fans RRQ untuk setop keluarkan beberapa hal yang tidak baik pada team lain. Sebab kita bersahabat. Dalam laga kemungkinan memang musuhan tetapi selain itu kita bersahabat. Beberapa kata awalnya yang kurang enak cuma gurauan saja, agar makin hebat serta panas di kompetisinya,” tuturnya.

“Selain itu kita rekan, sportif, serta sama-sama memberikan dukungan keduanya. Jadi setop mengejek, silahkan berkreasi,” tandas ia.

 

Tidak lupa Joshua menguncapkan terima kasih pada fan setia RRQ yang tetap memberi dukungan pada RRQ Hoshi sampai sukses memenangkan Mobile Legends Professional League (MPL) Indonesia Season 5 musim reguler.

“Terima kasih pada kalian yang telah memberikan dukungan kami dari minggu pertama sampai delapan. Sekarang kami telah lolos ke play-off serta terus beri suport kalian. Sampai bertemu di play-off. VIVA RRQ!”

kampanye berbentuk banner dengan slogan-slogan positif seperti “Setop mengejek, silahkan berkreasi” seringkali dilaksanakan. Tetapi, hilangkan toxic pada fans di belakang monitor atau netizen kelihatannya tidak mungkin. Wahai kalian (fans ngawur) harus tahu, permainan sebagian orang dalam tim kemungkinan menurut kalian jelek, tetapi tidak ada yang semakin lebih jelek dibanding tingkah laku kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *